Casey Stoner menjalani perawatan pasca crash Suzuka 8Hours

Kabar kurang beruntung datang dari dunia balap, menimpa seorang pebalap gaek mantan Juara dunia baik di Ducati maupun Honda team Moto GP. seperti yang disampaikan lewat status medsos Facebook official Casey Stoner beberapa saat setelah mendapatkan perawatan medis dari pihak setempat, Casey Stoner yang dikenal tidak pernah membela tim garpu Yamaha yang juga dikenal sebagai manufaktur instrument musik, ketika berlaga di ajang balapan paling bergensi sejagad itu, mengalami crash yang cukup serius dalam ajang Suzuka 8H, ajang balap yang dikenal untuk menguji durabilitas, dan daya tahan mesin dari berbagai pabrikan yang dilakukan di sirkuit Suzuka Jepang.

berikut adalah kutipan status Casey Stoner sebagaimana diberitakan Blogger amatir yang beralamat di :
https://peletjepang.wordpress.com/2015/07/26/casey-stoner-broken-scapula-fractured-tibia/

“Well my ‪#‎Suzuka8H‬ ended spectacularly!Stuck Throttle = Broken Scapula + Fractured Tibia and a few more tweaks. Sucks!”, as can be seen in the following picture.

dengan terjemahan bebas sebagai berikut

|| partisipasi saya dalam ajang SUzuka 8H berakhir sudah secara spektakuler, Throttle (gas) yang macet berakibat patahnya Scapula (suatu bagian /struktur tulang di bahu) dan juga patahnya Tibia (bagian tulang kering di betis) ||

kabar tersebut diperoleh langsung dari akun ofisial CS 27 yang lengkapnya sebagai berikut.
berita selengkapnya dari status CS 27

banyak hal bisa terjadi dalam dunia balap dan ketika berada di lintasan, termasuk kendala teknis.
bijaksanalah menggunakan power dan kecepatan mesin kendaraan anda, karena pembalap peraih juara dunia level pro seperti Casey Stoner yang berlaga dengan safety gear, piranti pengereman + kontrol canggih, lalu dengan wearpack dan boot dari penyedia kenaman sekalipun bisa mengalami hal hal tidak di inginkan, yang berakibat fatal, dan ingat  dibayar untuk ngebut.

nah anda sekalian, power motor tidak sampai sepersepuluh, tidak dibayar, no safety gear, rem non ABS tidak bayar asuransi pula, lalu ugal-ugalan,?
penulis melalui tulisan ini cukup mengingatkan saja akan potensi bahayanya
intinya ugal ugalan di jalan umum, think again lah,.

Krusial : Pemilihan Ban dan Kompon di Last Minute

Masih teringat, betapa di Catalunya yang mana -bukan merupakan sirkuit asing bagi MM yg merupakan rider spaniard di jajaran rider elite Moto GP-, VR 46 kala itu dapat dikatakan menang gemilang, tentu hal tersebut terjadi tidak semudah seperti membalik telapak tangan, sejak FP sebenarnya VR tidak terlihat sedemikian mendominasi, namun seorang ~legend tidaklah berdiri sendiri tentunya. Jajaran Pentolan Yamaha khususnya Lin Jarvis tentu bukan pribadi gegabah, mendengar masukan dari para ahli tentu menjadi hal yang sangat bermanfaat jika ingin menguasai saat real Race, dan VR pun manut. Betapa tidak, mulai sejak laga pembuka Qatar VR selalu berdiskusi dengan expert untuk urusan Ban. Tidak kurang, Nama-nama sekaliber Pit Baumgartner  Insinyur Bridgestone  asal Jerman dan Masao Azuma (si Masao ini sangat bisa jadi orang jepang) memberi masukan yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan kualifikasi ilmu/expertise mereka, so sepertinya semua input di Mix&Match dalam paket motor YZF M1, dan hasilnya pun Cetar dan Badai.

Namun, mengutip sebuah pengibaratan yang menyatakan bahwa “Sejarah Berulang”, hal demikian terjadi juga pada MM 93 pada seri Sachs GP. Rider Honda diketahui sedemikian baik mempertahankan performa sejak FP dengan Ban Asimetris, dalam kondisi yang sengit namun seimbang karena sama-sama menggunakan ban asimetris, terlihat duo Repsol Honda nyaman berada di depan terbukti pole 1-2 juga dikuasai duo Repsol Honda.

So, di mana kah letak krusialnya pemilihan Ban sebagaimana disebutkan di judul? MBY sekalian, MM dan Pedro ternyata memutuskan untuk start pada real race GP Sachs menggunakan hard kompon (Hard compound) non simetris, alias hard kompon ban Normal. The Result, MM-DP ,1-2 juga sebagaimana pada saat start. Selebihnya jika anda memperhatikan interview pasca race, rider elit lainnya, selain menyatakan bahwa kembali membaiknya performa Honda karena faktor -Chassis- racikan 2014, pemilihan Ban di last minute menjelang the real race juga penting.

Kedigdayaan Yamaha

Tidak diragukan lagi, betapa strategis langkah yang diambil Yamaha untuk merekrut pebalap gaek penuh pengalaman VR 46, sebagai juru mudi untuk sepeda motor dengan spesifikasi balap di sirkuit, tentu saja yang saya maksud YZF M1 dengan warna dominan  biru livery Movistar. Betapa tidak, hegemoni Honda 2 tahun terakhir musim 2013-2014 yang nyaris tidak tersentuh, perlahan mulai terkejar oleh tim Factory yamaha Movistar yang juga menyematkan jargon yamaha indonesia berupa tulisan -semakin di depan – entah di racing suit rider , begitupun juga di body YZF M1.

Yamaha pada musim 2015 memang telah secara konsisten mengangkangi podium melalui 2 pebalapnya VR dan JL, tentu merupakan tantangan bagi Honda racing team, sementara di sisi lain Ducati juga mengalami perkembangan yang terekskalasi sehingga dapat mengirim 1 atau 2 pebalapnya mengekor ke podium terhadap   2 pebalap Yamaha sebagaimana telah disebutkan.

Sebagai pecinta olahraga balap, MBY tentu menanam harapan besar agar situasi seperti ini tetap terjaga hingga akhir  musim, tanpa ada satupun rider yang mengalami penurunan performa, baik secara individu, team, performa kendaraan maupun penurunan hal lain yang bisa mempengaruhi kualitas tontonan menghibur sekelas MotoGP.

Berbicara dari aspek bisnis, Moto GP sebagai kelas premier paling  bergengsi, ajang ini merupakan ajang promosi ampuh. Tidak heran jika kita kerap menemukan fenomena dimana tim marketing pabrikan sepeda motor memanfaatkan dengan baik prestise, jika tim pabrikannya memenangi suatu seri atau bahkan menjadi juara Dunia.

Demikian kiranya artikel dari MBY edisi kali ini, semoga Yamaha dalam waktu dekat bisa segera membuat mobil yang menjadi impian fans boy nya dan semoga bisa bersaing dengan  mobil yang sudah beredar dan lebih dahulu eksis.

Semoga saja

 

FBY